“Kriiing wake up wake up”, suara jam waker doraemon biruku mulai mengeluarkan suara khasnya. Jam waker ini memang unik dan memiliki deringan khas yang beda dari yang lainnya. Cukup membuat kaget siapapun yang memilikinya dan terbangun dari tidur yang nyenyak.
Aku melihat ke arah jam weaker itu , waktu menunjukkan pukul tujuh kurang 15 menit. Segera aku beranjak dari tempat tidur dan sarapan pagi seperti biasanya. Secepat mungkin aku mengunyah makanan yang ada dihadapanku sekarang dan langsung beranjak ke kamar mandi.
Waktu semakin berjalan, tepat pukul tujuh lewat lima belas menit aku siap untuk berangkat ke sekolah. Segera mungkin ku keluarkan si brum-brum merahku. Dengan kecepatan super, ku lajukan sepeda motor ku. Ya, seperti itu lah setiap pagiku , di kejar waktu dan selalu di kejar waktu. Bahkan hampir setiap hari guru piket menegurku karena ulah terlambatku ini.
Sesampai di sekolah, sudah ada barisan khusus kelas XII di lapangan basket sekolah. Segera aku memasuki barisan kelasku. Dalam hati aku bersorak karena beruntung kali ini tidak ada guru piket yang memberiku “wejangan terlambat”.
“Selamat pagi anak-anak. Saya disini hanya ingin mengumumkan dan mengingatkan bahwa waktu Ujian Nasional yang akan kalian hadapi bukanlah waktu yang lama. Cukup menghitung beberapa minggu ke depan dan kalian akan bertempur menumpahkan semua bekal yang sudah kalian dapat selama 3 tahun ini. Dan penentuan lulus tidaknya ada di tangan kalian semua. Kami sebagai guru hanya bisa membantu dalam hal pengetahuan , mengarahkan dan memotivasi kalian untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan meraih masa depan kalian yang cerah nantinya. Jadi tolong belajar yang rajin, kurangi waktu main-main kalian karena penentuan sudah semakin dekat dan yang terpenting tetap utamakan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena tanpa-Nya kita tidak bisa mendapatkan yan kita inginkan. Tetap semangat dan tetap percaya bahwa kalian bisa merangkul semua keinganan masing-masing. Sekian dan terimakasih”.
Semua murid-murid yang berada di dalam barisan mulai mengeluarkan suara-suara bisikannya lagi. Aku sendiri terdiam melamun. Sampai pada akhirnya ada yang membuyarkan lamunanku.
“Lily ….”
***
Bel yang menandakan kegiatan belajar mengajar dimulai pun berbunyi. Aku dan temen-teman sekelas segera memasuki ruang kelas XII IS 2. Di dalam kelas, seperti biasa suasana ribut dan tidak terkontrol. Maklum, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang merangkap sebagai wali kelas kami belum tiba ke kelas.
Aku sendiri termenung memandangi langit-langit kelas. Entah kenapa kali ini aku enggan untuk ikut ribut seperti biasanya. Dalam benakku terbesit bahwa tak lama lagi hanya hitungan beberapa minggu ke depan, langit-langit ini tak bisa lagi ku pandangi. Langit-langit yang menjadi pelindung kami, yang menjadi saksi kebersamaan kami seperti sekarang ini. Langit-langit ini akan tetap disini menyimpan kenangan kami.
Kami semua akan berpindah. Ya, berpindah ke jenjang selanjutnya. Jenjang yang lebih tinggi. Berpindah ke tanggung jawab yang lebih berat. Terlalu cepat bagiku untuk menanggung tanggung jawab yang lebih berat itu. Memang waktu selalu berjalan dan berlari bagaikan pelari yang hebat yang tak pernah berhenti berlari.
***
“Dataaaangg …”
Akh, teriakan itu membuyarkan lamunanku. Teriakan dari seorang Lena sebagai sekretaris kelasku menandakan ia memberikan peringatan bagi kami karena guru pelajaran Bahasa Indonesia telah datang.
Suasana kelas pun berubah menjadi senyap, tak lagi ribut seperti sebelumnya. Pak Joni sebagai guru Bahasa Indonesia segera memasuki ruangan kelas kami. Beliau menyampaikan materi pelajaran hari ini. Dan kami antusias menyimaknya.
Setelah 2 jam mata pelajaran usai, Pak Joni memberikan tugas seperti biasanya di akhir jam pelajaran. Namun kali ini tugas yang diberikan agak berbeda. Tugas yang diberikan adalah tugas sebagai syarat mengikuti ujian praktek dan Ujian Akhir Sekolah.
“Baik, kali ini saya akan memberikan tugas pada kalian untuk 2 minggu ke depan. Buatlah cerpen minimal empat lembar di kertas kuarto dengan ketentuan jenis font “Times New Roman” , size font 12 dan spasi 2. Yang terlambat mengumpulkan atau tidak mengerjakan, jangan harap bisa mengikuti ujian praktek maupun UAS. Ada pertanyaan? Kalau ada silahkan tunjuk asbes”, canda Pak Joni.
“Saya Pak”, Rina segera mengacungkan tangannya.
“Ya, silahkan”
“Untuk temanya, bagaimana pak?”, tanya Rina.
“Bebas yang terpenting tidak menyinggung SARA. Ada lagi yang belum jelas? Any question?”, ujar Pak Joni.
“Tidak Pak”, kami sekelas serempak menjawab.
“No mensen pak”, celetuk Rani.
Seleuruh kelas tertawa sekaligus Pak Joni ikut melebur dalam tawa kami.
“Baik, kalau begitu untuk materi kali ini sampai disini saja. Dan jangan lupa tugasnya. Selamat siang”, tutup Pak Joni.
“Siang…Pak”, jawab kami.
Teeeet … bel istirahat berbunyi.
***
Langit sore mulai memancarkan sinar mentari yang perlahan menenggelamkan wujudnya. Aku duduk di ruang tamu dengan memainkan jari-jemariku di senar-senar gitar”.
Menikmati sore hari dengan memainkan gitar dan menyanyikan lagu adalah salah satu kegemaranku. Karena bagiku suasana sore menggambarkan langit yang indah dan tenang. Ya, aku bisa memainkan gitar seperti ini berkat sosok Papaku.
Papaku yang sejak setahun lalu meninggalkan kami untuk waktu yang tidak dapat ditentukan lagi, untuk kabar yang tak dapat terkabarkan lagi. Ya lebih tepatnya untuk selamanya. Aku sering dilanda rindu akan kehadiran sosok Papaku. Sosok beliau yang aku kagumi sampai sekarang. Yang penuh semangat dalam menjalani hidup dan tak pernah mengeluh lelah akan apa yang telah dilaluinya. Sosok yang selalu berusaha melakukan apapun untuk memenuhi keinginan anaknya. Sungguh sosok teladan bagiku.
Aku ingat dulu sewaktu aku malas sekolah. Beliau berusaha membujukku untuk sekolah dan memenuhi segala keinginanku. Aku ingat ketika aku menginginkan suatu barang kesukaanku, keesokan harinya barang itu sudah menjadi milikku. Kini saat sosok itu tak lagi hadir dalam hidupku, aku baru menyadari bahwa aku terlalu “terlena” akan semua yang beliau lakukan. Aku terlalu banyak menuntut tanpa memberi “feedback” nya.
Memang semenjak kepergian sosok Papa, aku tak lagi seperti itu. Karena pemasukan di keluarga kami tak lagi sama saat Papa ada. Tak lagi semakmur saat Papa ada. Ya roda itu berputar. Tak selamanya seseorang diatas dan tak selamanya dibawah.
***
“Hai iky lagi apa nih adek kakak yang imut?”, sapaku pada iky.
“Ini nih iky dapet mainan baru dari tante Nona”, jawab iky dengan gaya bicaranya yang lucu.
Aku memperhatikan mainan baru yang Iky mainkan. Ia sibuk memutar-mutar sebuah kubus yang penuh warna-warna yang berbeda dan. Itulah rubik, mainan yang memerlukan logika berpikir untuk berhasil menyamakan warna pada setiap sisinya.
“Hallo anak-anak mama sayang , lagi apa nih?”, mamaku mengejutkan kami dengan suara semangatnya itu.
“Eh, mama. Ini nih lagi liatin Iky main rubik”,jawabku.
“Wah asyik bener ya sepertinya”, tanggap mama.
“Iya tuh ma, liat aja kita di cuekin hihihi”
“Oh, iya sebentar lagi Lily jadi kan ke luar kotanya ke tempat bibi di Jakarta?”
“Emmm, jadi ma. Lily mau belajar jauh dari mama. Mau belajar hidup mandiri. Lily mau jadi the next Agnes Monica hahaha”, candaku.
“Ah, kamu bisa aja ya. Mama selalu dukung kamu kok”, jawab mama sambil tersenyum.
***
“Dear , diary . Hari ini nggak tahu kenapa aku merasa ini waktu ku. Waktu ku berub ah. Waktuku menunjukkan bahwa aku bisa hidup mandiri walaupun aku tahu masih berat buatku untuk bisa mandiri jauh dari mama. Tapi inilah keharusanku. Aku mau membanggakan Papa di surga dan Mama yang kini semakin rentan juga menjadi panutan untuk Iky adekku.
Dari pagi aku mencoba intropeksi diri dan evaluasi akan hidupku sampai sekarang. Aku sadar bahwa aku terlalu banyak menuntut tanpa memberi yang setimpal. Aku sadar sekarang saatnya aku memberi bukan selalu menuntut. Tanggungjawabku semakin berat sejalan dengan semakin tumbuh dewasanya diriku.
Tadi siang Iky memainkan benda kubus penuh warna yang dapat diputar dan aku memperhatikannya dengan seksama. Buat aku ternyata hidup manusia seperti rubik. Setiap perputaran atau perpindahan akan menghasilkan warna yang berbeda. Setiap perubahan atau perilaku yang kita lakukan akan merubah hidup kita dengan hasil atau warna hidup yang berbeda. Dan perubahan yang kita lakukan tentu berdasarkan pilihan kita. Layak nya koin, memiliki dua sisi yang berbeda namun kita dapat melempar dan memilih salah satu sisinya. Dan itulah jalan kita. Jalan kita tentu tidak mulus-mulus saja layaknya jalan tol yang tanpa hambatan. Pasti akan mengalami perputaran layak sebuah roda yang berputar. Unik ya hidup ini. Semua saling bergabung dan beradu.
Aku mau memadukan itu semua, diary. Aku mau mengubah caraku agar menghasilkan warna hidup yang lebih baik dan memilih jalanku tanpa takut menghadapi perputaran hidup. Aku ingin membanggakan diri sendiri dengan kekuatan mimpi-mimpiku yang kelak jadi kenyataan. Dan ingin melihat mama menangis bahagia karena kesuksesanku kelak”.
Aku melihat jam dinding kamar ternyata telah menunjukkan pukul 00:00 , segera aku menutup buku diary ku yang menyimpan semua kisah-kisah hidupku. Aku tersenyum memandangi foto di meja belajarku. Foto dimana mama,papa,aku dan iky saling berpelukan.
“Suatu hari nanti aku akan menjadi seseorang yang dapat kalian banggakan di keluarga ini”, bisikku.
Segera aku mematikan lampu kamar dan bersiap tidur untuk menyiapkan energi menghadapi esok pagi.
-SEKIAN-
pake namaku bayaaaaar :p
BalasHapusmuahaha :D kangeeeeen {}
Hapusbayar loh. makanya ke jember doong
Hapus