Memilih Menerima

  • 1
Beberapa hari yang lalu, sahabat bertahun-tahunku curhat via LINE. Kalau dia yang curhat nih, masalahnya lebih sering tentang hati. Nggak tau kenapa dari dulu sering banget dia galau. Tapi menurutku yang sekarang masalah hatinya dia yang super galau *ehmaap.

Aku pernah baca tulisan seseorang yang bilang : 

putus pas SMA ga usah nangis galau macam dunia mau usai. Sisain tenaganya buat putus di umur 20.

Banyak yang bilang kalau galauan hati umur 20+ itu super complicated. Banyak yang perlu dipertimbangin. Banyak yang perlu dipikirin sebelum, saat, dan sesudah menjalin hubungan. Iya. Sekarang aku meng-amin-i itu.

Balik ke sahabat bertahun-tahunku ini.
She said," find him is like fill my incomplete puzzle". WOW!!! Aku tau ini bukan kali pertama ia jatuh cinta. Tapi ini kali pertama ia terjebak di situasi seperti ini. Seperti aku. Terjebak di situasi yang belum pernah dialami sebelumnya (senyum penuh tanda kurung buka).

there always be the first one and that's hard

Berada di posisi yang saling bertolak belakang secara bersamaan memang menyebalkan. Bertahan dan berhenti. Dua kata yang selalu menjadi awal peperangan dengan diri sendiri. Kalau sudah begini, hanya diri sendiri yang bisa menyelesaikannya. Aku cuma bisa bilang ke sahabatku :

Kalau tetep mau bertahan, ikhlasin yang dijalani, terima kenyataannya, lepasin yang mengganjal. Kalo gabisa nerima, lepasin orangnya. As simple as that, but that's hard. I know.

Memang akan selalu ada hal-hal diluar kontrol kita. Nggak semuanya bisa dibawah kendali kita. Bahkan pun diri kita sendiri. Selalu ada penjara dan yang terpenjara. Yang bisa kita lakukan terkadang hanyalah ; memilih menerima.

081215
05:30 PM
di sisa hujan Purwokerto.

2 for two

  • 1
Sudah lama aku tak lagi menyusun kata-kata untukmu seperti dulu.
Bukan karena kamu tak lagi spesial.
Bahkan untuk diriku sendiri pun aku tak pernah lagi menyusun kata-kata.
Tapi malam ini, entah mengapa aku tergerak untuk membuka laptop dan membuka blog yang sudah lama ku tinggalkan untuk menyusun kata-kata untukmu [lagi].

Dua.
Angka yang tak asing bagiku.
Angka yang menjadi favoritku sejak duduk di bangku taman kanak-kanak.
Angka yang kini punya arti tersendiri dalam hidupku.
Tak hanya favorit tapi berarti.

02 Desember 2013.
Masih terekam dengan jelas dan lengkap apa yang terjadi saat itu.
Saat dimana sebuah keputusan diambil.
Saat dimana masih bahagia-bahagianya.
Saat aku dan kamu sering menyusun kata-kata.

Dua tahun.
Aku percaya semua ada fasenya masing-masing.
Kalau aku boleh bilang; ini fase terberat kita sejauh ini.
Amarah sudah jadi cemilan kita sehari-hari belakangan kemarin.
Bahkan sampai semesta pun ikut-ikutan meledak hari itu.

02 Desember 2015.
Lalu semua amarah itu menghilang entah ke langit atau tanah.
Kita memilih untuk menerima segala.
Memulai lagi dari titik paling rendah.
Agar kembali menuju fase bahagia.

Selamat hari "aku lagi sayang-sayangnya sama kamu", partner gila; Hanifan Satria.

My worst-sweet-addiction-enemy 



071215
1:11 AM
sedang berusaha memejamkan mata dengan wangi parfummu yang menempel di baju.