Warning for Digital Native Generation

  • 0

“Era digital’ , kata ini sering sekali didengar ataupun dibaca. Namun, apa sebenarnya ‘era digital’ tersebut? Mengutip dari buku Defining Your Digital Strategy karya Tuhu Nugraha, Era digital adalah sebuah periode dalam sejarah manusia yang ditandai oleh perubahan dari industri tradisional yang dibawa oleh revolusi industri menjadi industri yang basisnya ekonomi dan informasi.

Di era digital, ada dua jenis makhluk yang menjadi penghuni. Yang pertama bernama digital native consumer , yang satu lagi bernama digital immigrant consumer. Lalu, apa perbedaan dari keduanya? Digital immigrat adalah orang-orang yang terlahir sebelum era digital, tetapi mereka juga tertarik dan berusaha untuk menerima teknologi yang memiliki manfaat bagi dirinya. Generasi ini beradaptasi terhadap teknologi secara lambat. Sehari-harinya, mereka melakukan kegiatan tahap demi tahap dan hanya melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. Singkatnya, mereka tidak multi-tasking. Sebaliknya, digital native adalah orang-orang yang terlahir di tengah perkembangan teknologi yang luar biasa. Teknologi canggih merupakan hal yang biasa bagi generasi ini. Selain itu, mereka juga menyukai informasi secara real time dan cepat. Berbeda dengan digital immigrant, mereka ini sudah terbiasa dengan proses multi-tasking. Saat ini, jumlah digital native sudah setara dengan seperempat penduduk dunia.

Terlahir di kisaran tahun 1975 sampai sekarang, mereka memiliki pengaruh, uang, dan juga kekuasaan untuk membuat keputusan. Berkomunikasi dengan media sosial sudah jadi hal yang biasa bagi mereka, Semua hal yang berbau digital dan teknologi sudah menjadi bagian hidup para digital native. Mereka dapat mengoneksikan aktivitas dunia digital dan analog. Penelitian yang dilakukan oleh Azzia Walker dan Ofer Zu menyebutkan bahwa ada tiga macam digital native, antara lain:
  1.  Avoiders, orang-orang yang beradaptasi dengan teknologi secara lambat bisa masuk kesini. Biasanya, para avoiders masih suka membaca koran kertas dna tidak keberatan dengan hal tersebut.
  2. Reluctant Adopters, tipe yang satu ini lebih update daripada avoiders. Mereka sudah bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi tidak terlalu cepat.
  3. Eager Adopters, mereka adalah orang-orang yang antusias terhadap perkembangan teknologi. Mereka dengan mudah dan cepat beradaptasi dengan teknologi terbaru.

Singkatnya, kehidupan digital native dikelilingi oleh perkembangan teknologi yang luar biasa dan menimbulkan berbagai pengaruh terhadap konsumerisme dan loyalitas terhadap suatu produk. Ini terlihat dari data survey yang dipaparkan oleh Tuhu Nugraha bahwa pengguna internet jumlahnya hampir mencapai 3 milyar atau setara dengan 45% populasi di dunia dan 48% dari jumlah tersebut adalah penduduk Asia.

Seperti di negara-negara lainnya, pengguna Internet di Indonesia dari hari ke hari terus bertambah. Kementrian Komunikasi dan Informatika RI mencatat pengguna Internet di Indonesia saat ini menembus angka 82 juta. Data menunjukkan 62% orang Indonesia mengakses internet dari gadget mereka, tanpa batas tempat dan waktu. Selain itu, Internet café atau warnet 49% jadi opsi kedua untuk masyarakat kelas menengah ke bawah bermain internet. Disusul rumah 41% bagi yang sudah memiliki akses internet, serta kantor dengan fasilitas internet yang memadai 20%. Akses internet tersebut juga terlihat dari variabel gender yang mana merupakan variabel dalam perspektif pesimis. Data menyebutkan mayoritas pengguna internet adalah pria, dengan perbandingan 60:40 (2014; 16).
Tidak dapat dipungkiri bahwa era digital sudah menjadi suatu budaya yang mengakar pada generasi Y Millineal (1981-setelahnya) dan juga generasi X Nexters (lahir setelah tahun 2000). Pada era digital ini segala kemudahan bisa didapat. Namun perlu diingat kembali seperti yang disebutkan oleh teori Cultural Studies bahwa semua hal ataupun karya yang ada dibumi ini hadir memiliki hubungan dengan hal atau karya yang lain dan juga yang mendahuluinya. Mereka semua saling berkaitan dan menyentuh kehidupan manusia.

Kehidupan manusia kini terlihat semakin mudah dalam memperoleh sesuatu hal baik yang benar-benar berguna sampai kepada hanya sekedar hiburan. Disamping menghadirkan segala kemudahan dan keasyikan , era digital juga memiliki pengaruh yang tanpa disadari itu tidak baik untuk kehidupan manusia. Mengutip ungkapan Griffiths (1996) dalam Chapter 3: Children and New Media , Handbook of New Media, mengatakan bahwa media baru terlihat buruk untuk otak - dan juga untuk tubuh. Banyak studi klinis fenomena seperti 'Nintendo elbow’ dan epilepsi diduga disebabkan oleh permainan komputer, studi ini dilakukan melalui penelitian komputer' kecanduan 'dan efek negatif terhadap imajinasi anak-anak dan prestasi akademik. Ya, generasi X merupakan generasi anak-anak yang juga sudah termasuk dalam digital native generation. Mereka sudah sangat akrab dengan internet dan teknologi. Hal ini menimbulkan dampak yang positif dan juga negatif.
Ada banyak fakta menyebutkan bahwa saat ini persentase anak-anak yang mengalami motoric delay meningkat. Motoric delay adalah adalah keterlambatan perkembangan anak sehubungan dengan kemampuan motoriknya. Jadi, otot-otot pada anak sulit untuk digerakkan. Gerakannya akan menjadi lambat, aktivitasnya juga terganggu dan paling parah adalah anak tak dapat berjalan. Mengerikan, bukan?

Bisa kita lihat di era digital sekarang, generasi X lebih sering memegang gadget dan bermain game daripada memegang buku atau bermain permainan tradisional yang tidak menggunakan gadget. Jika diamati, perkembangan mereka terlihat lebih cepat daripada generasi-generasi sebelumnya, namun perhatikan kembali dengan seksama bahwa hal itu justru memberikan dampak yang mengerikan bagi mereka.Ada satu kasus nyata yang pernah saya baca melalui akun twitter seseorang bahwa, ada anak usia 5 tahun yang tidak bisa membalik-balikkan lembaran kertas yang menyatu pada buku. Ketika diperiksa , ternyata ia telah terbiasa menggeser atau menyentuh gadget-nya dengan desain touchscreen sehingga perkembangan motorik si anak lemah. Kasus ini relevan dengan pendapat dari Griffiths pada tahun 1996 diatas. Ya, new media mengganggu perkembangan otak dan juga tubuh anak-anak. Lalu apa yang harus dilakukan?

Sebagai generasi terdahulu, terutama orangtua yang memiliki anak-anak yang masih dalam proses perkembangan, tidak cukup menyediakan anak dengan teknologi saja. Orangtua juga harus memperhatikan lebih dekat setiap proses interaksi anak-anak dengan media baru ini. Ikut andil dalam melihat, menafsirkan dan menggunakannya. Sehingga pengaruh yang tidak baik bisa diminimalisir dan manfaat positifnya lebih banyak dirasakan oleh anak-anak maupun orangtuanya.


REFERENCE

Lieverouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Hand Book of New Media: Social Shaping Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London

Nugraha, Tuhu. 2014, WWW.HM: Defining Your Digital Strategy, Upnormals Publishing: Jakarta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar