“Era digital’ , kata ini sering sekali
didengar ataupun dibaca. Namun, apa sebenarnya ‘era digital’ tersebut? Mengutip
dari buku Defining Your Digital Strategy
karya Tuhu Nugraha, Era digital adalah sebuah periode dalam sejarah manusia
yang ditandai oleh perubahan dari industri tradisional yang dibawa oleh
revolusi industri menjadi industri yang basisnya ekonomi dan informasi.
Di era digital, ada dua
jenis makhluk yang menjadi penghuni. Yang pertama bernama digital native consumer , yang satu lagi bernama digital immigrant consumer. Lalu, apa
perbedaan dari keduanya? Digital immigrat adalah orang-orang
yang terlahir sebelum era digital, tetapi mereka juga tertarik dan berusaha
untuk menerima teknologi yang memiliki manfaat bagi dirinya. Generasi ini
beradaptasi terhadap teknologi secara lambat. Sehari-harinya, mereka melakukan
kegiatan tahap demi tahap dan hanya melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu.
Singkatnya, mereka tidak multi-tasking. Sebaliknya, digital native adalah orang-orang
yang terlahir di tengah perkembangan teknologi yang luar biasa. Teknologi canggih
merupakan hal yang biasa bagi generasi ini. Selain itu, mereka juga menyukai
informasi secara real time dan cepat. Berbeda dengan digital immigrant, mereka
ini sudah terbiasa dengan proses multi-tasking. Saat ini, jumlah digital native sudah setara dengan seperempat
penduduk dunia.
Terlahir di kisaran
tahun 1975 sampai sekarang, mereka memiliki pengaruh, uang, dan juga kekuasaan
untuk membuat keputusan. Berkomunikasi dengan media sosial sudah jadi hal yang
biasa bagi mereka, Semua hal yang berbau digital dan teknologi sudah menjadi
bagian hidup para digital native. Mereka dapat mengoneksikan aktivitas dunia digital dan analog. Penelitian yang dilakukan oleh Azzia Walker dan Ofer Zu
menyebutkan bahwa ada tiga macam digital
native, antara lain:
- Avoiders, orang-orang yang beradaptasi dengan teknologi secara lambat bisa masuk kesini. Biasanya, para avoiders masih suka membaca koran kertas dna tidak keberatan dengan hal tersebut.
- Reluctant Adopters, tipe yang satu ini lebih update daripada avoiders. Mereka sudah bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi tidak terlalu cepat.
- Eager Adopters, mereka adalah orang-orang yang antusias terhadap perkembangan teknologi. Mereka dengan mudah dan cepat beradaptasi dengan teknologi terbaru.
Singkatnya, kehidupan digital native dikelilingi oleh
perkembangan teknologi yang luar biasa dan menimbulkan berbagai pengaruh
terhadap konsumerisme dan loyalitas terhadap suatu produk. Ini terlihat dari
data survey yang dipaparkan oleh Tuhu Nugraha bahwa pengguna internet jumlahnya
hampir mencapai 3 milyar atau setara dengan 45% populasi di dunia dan 48% dari
jumlah tersebut adalah penduduk Asia.
Seperti di
negara-negara lainnya, pengguna Internet di Indonesia dari hari ke hari terus
bertambah. Kementrian Komunikasi dan Informatika RI mencatat pengguna Internet
di Indonesia saat ini menembus angka 82 juta. Data menunjukkan 62% orang
Indonesia mengakses internet dari gadget mereka, tanpa batas tempat dan waktu.
Selain itu, Internet café atau warnet 49% jadi opsi kedua untuk masyarakat
kelas menengah ke bawah bermain internet. Disusul rumah 41% bagi yang sudah
memiliki akses internet, serta kantor dengan fasilitas internet yang memadai
20%. Akses internet tersebut juga terlihat dari variabel gender yang mana
merupakan variabel dalam perspektif pesimis. Data menyebutkan mayoritas
pengguna internet adalah pria, dengan perbandingan 60:40 (2014; 16).
Tidak dapat dipungkiri
bahwa era digital sudah menjadi suatu budaya yang mengakar pada generasi Y Millineal (1981-setelahnya) dan juga
generasi X Nexters (lahir setelah
tahun 2000). Pada era digital ini segala kemudahan bisa didapat. Namun perlu diingat
kembali seperti yang disebutkan oleh teori Cultural
Studies bahwa semua hal ataupun karya yang ada dibumi ini hadir memiliki
hubungan dengan hal atau karya yang lain dan juga yang mendahuluinya. Mereka
semua saling berkaitan dan menyentuh kehidupan manusia.
Kehidupan manusia kini
terlihat semakin mudah dalam memperoleh sesuatu hal baik yang benar-benar
berguna sampai kepada hanya sekedar hiburan. Disamping menghadirkan segala
kemudahan dan keasyikan , era digital juga memiliki pengaruh yang tanpa disadari
itu tidak baik untuk kehidupan manusia. Mengutip ungkapan Griffiths (1996)
dalam Chapter 3: Children and New Media ,
Handbook of New Media, mengatakan bahwa media baru terlihat buruk untuk
otak - dan juga untuk tubuh. Banyak studi klinis fenomena seperti 'Nintendo elbow’ dan epilepsi diduga
disebabkan oleh permainan komputer, studi ini dilakukan melalui penelitian
komputer' kecanduan 'dan efek negatif terhadap imajinasi anak-anak dan prestasi
akademik. Ya, generasi X merupakan generasi anak-anak yang juga sudah termasuk
dalam digital native generation. Mereka sudah sangat akrab dengan internet dan
teknologi. Hal ini menimbulkan dampak yang positif dan juga negatif.
Ada banyak fakta
menyebutkan bahwa saat ini persentase anak-anak yang mengalami motoric delay meningkat. Motoric delay adalah adalah keterlambatan perkembangan anak
sehubungan dengan kemampuan motoriknya. Jadi, otot-otot pada anak sulit untuk
digerakkan. Gerakannya akan menjadi lambat, aktivitasnya juga terganggu dan
paling parah adalah anak tak dapat berjalan. Mengerikan, bukan?
Bisa kita lihat di era
digital sekarang, generasi X lebih sering memegang gadget dan bermain game
daripada memegang buku atau bermain permainan tradisional yang tidak
menggunakan gadget. Jika diamati,
perkembangan mereka terlihat lebih cepat daripada generasi-generasi sebelumnya,
namun perhatikan kembali dengan seksama bahwa hal itu justru memberikan dampak
yang mengerikan bagi mereka.Ada satu kasus nyata
yang pernah saya baca melalui akun twitter seseorang bahwa, ada anak usia 5
tahun yang tidak bisa membalik-balikkan lembaran kertas yang menyatu pada buku.
Ketika diperiksa , ternyata ia telah terbiasa menggeser atau menyentuh gadget-nya dengan desain touchscreen sehingga perkembangan
motorik si anak lemah. Kasus ini relevan dengan pendapat dari Griffiths pada
tahun 1996 diatas. Ya, new media
mengganggu perkembangan otak dan juga tubuh anak-anak. Lalu apa yang harus
dilakukan?
Sebagai generasi
terdahulu, terutama orangtua yang memiliki anak-anak yang masih dalam proses
perkembangan, tidak cukup menyediakan anak dengan teknologi saja. Orangtua juga
harus memperhatikan lebih dekat setiap proses interaksi anak-anak dengan media
baru ini. Ikut andil dalam melihat, menafsirkan dan menggunakannya. Sehingga
pengaruh yang tidak baik bisa diminimalisir dan manfaat positifnya lebih banyak
dirasakan oleh anak-anak maupun orangtuanya.
REFERENCE
Lieverouw, Leah A.
& Sonia Livingstone. 2006, Hand Book of New Media: Social Shaping
Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London
Nugraha, Tuhu. 2014, WWW.HM: Defining
Your Digital Strategy, Upnormals Publishing: Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar