Akses Internet, Memudahkan atau Menyesatkan?

  • 0
Pertemuan ketiga dalam mata kuliah Teknologi Komunikasi kemarin me-review chapter 4 dengan judul Perspective on Internet Use: Access, Involvement an Interaction dalam Handbook of New Media. Jika kita flashback, pertemuan sebelumnya telah membahas tentang bagaimana akhirnya terjadi perubahan pada ‘new media’ dan ‘new media’ mampu melahirkan apa yang disebut dengan ‘virtual community. Maka dalam pertemuan ketiga ini, pokok bahasan yang saya dapat adalah tentang bagaimana seseorang melakukan akses pada ‘new media’ dalam kaitannya adalah internet dan bagaimana seseorang melakukan akses itu , lalu menyebutkan bahwa internet sebagai ‘form of expression’.

Seperti yang kita tahu bahwa perkembangan teknologi semakin canggih ketika muncul apa yang disebut internet. Ya internet merupakan sebuah produk atau hasil eksperimen manusia yang menimbulkan berbagai efek baik positif ataupun negatif. Efek positif ataupun negative ini pun pada akhirnya mempengaruhi sistem kehidupan manusia. Banyak hal yang dapat kita ketahui hanya melalui satu koneksi; internet. Dan banyak motif kejahatan pula yang ditimbulkan oleh internet. Lalu pertanyaannya, sebenarnya internet memudahkan atau menyesatkan?

Pada chapter 4 ini dibahas tentang perspektif dalam ‘new media’. Ada 2 perspektif yang dapat kita lihat, yaitu pesimis dan optimis. Perspektif pesimisme membahas mengenai kekhawatiran tentang akses internet/media online  yang tidak sama yang berimplikasi pada keuntungan/manfaat yang didapat juga tidak sama. Banyak penelitian menunjukkan bahwa masyarakat minoritas seperti orang Afrika-Amerika dan Hispanik non-putih sangat kecil kemungkinannya untuk memiliki computer di rumah dan kurang memiliki akses terhadap jaringan dibandingkan masyarakat kulit putih dan Asia. Oleh karena itu masyarakat  Afrika - Amerika dan Hispanik non-putih dan kehilangan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan Internet (Neu et al, 1999). Penelitian juga menunjukkan bahwa langkah-langkah lain seperti jumlah waktu yang dihabiskan untuk online lebih rendah untuk kelompok minoritas. Sejumlah penelitian juga telah menunjukkan bagaimana akses oleh orang-orang di sektor-sektor tradisional yang biasanya berpendidikan rendah, berpendapatan yang rendah, serta usia yang lebih tinggi justru memiliki pengalaman yang kurang dalam dunia online. Sebuah studi oleh UCLA pada tahun 2000 membandingkan pengguna internet dengan yang bukan pengguna internet dan serta non-pengguna yang kemungkinan akan menjadi pengguna di kemudian hari. Studi ini menemukan bahwa hanya 31,2 persen dari mereka yang tidak lulus dari sekolah tinggi menggunakan internet pada musim gugur tahun 2000, 86,3 persen dari mereka yang memiliki gelar sarjana; 53,1 persen dari lulusan sekolah tinggi dan 70,2 persen dari mereka dengan beberapa pendidikan tinggi menggunakan internet. Sementara itu dalam hal gender, studi ini menunjukan lebih banyak wanita yang menggunakan akses internet daripada laki-laki. Namun saat ini saat ini di seluruh dunia lebih banyak pria daripada wanita yang cenderung memiliki akses ke Internet.

Disamping itu, untuk perspektif optimis, penelitian terbaru (ECRL, 1999; Howard et al, 2002; Katz dan Rice, 2002a) telah menemukan bahwa perbedaan ras dan gender dalam akses internet merupakan variabel lain yang diperhitungkan secara statistik. Namun yang lebih ditekankan pada perspektif ini adalah adanya upaya-upaya untuk mengatasi beberapa keterbatasan pada akses yang disebabkan oleh keadaan cacat.

Selain itu, terdapat pula dua perspektif yang berbeda yaitu Optimis vs Pesimis, terkait dengan isu apakah internet akan meningkatkan, atau justru mengurangi partisipasi atau keterlibatan masyarakat dalam politik. Sederhananya, beberapa orang mengatakan bahwa dunia maya dapat mengurangi arti dari masyarakat dunia nyata. Karena adanya anggapan John Seely Brown, bahwa para pengguna internet cenderung memiliki kekurangan dari hubungan primer sehingga dapat mendorong ketidak-bertanggungjawaban, dan bahkan sikap antisosial dalam masyarakat. Penggunaan sistem online untuk berkomunikasi jarak jauh dengan orang lain dapat mengurangi keintiman dan integrasi komunikasi fisik / face to face. Media massa baru memiliki kemampuan khusus untuk menciptakan sebuah ilusi yang kelihatannya seperti komunikasi face to face secara intim diantara pembawa acara dan khalayak individual, hingga menciptakan apa yang peneliti lain sebut sebagai ‘interaksi parasosial’.

Dalam penjelasan diatas, saya akan lebih menjelaskan tentang salah satu poin perspektif pesimis dalam isu apakah internet akan meningkatkan atau justru mengurangi partisipasi atau keterlibatan masyarakat. Hal ini untuk sedikit memberi gambaran tentang pertanyaan besar di awal tadi, yaitu : sebenarnya internet memudahkan atau menyesatkan?

Perspektif Pesimis: Adanya Peluberan Informasi

Pada perspektif pesimis terdapat satu poin yang harus kita pahami yaitu; adanya peluberan informasi sehingga membingungkan mana yang benar dan mana yang valid. Kita sebagai mahasiswa pasti sering mengakses yang namanya; internet. Segala informasi dapat kita serap tanpa disaring terlebih dahulu. Nah disini akhirnya muncul permasalahan bahwa, “apakah informasi yang kita dapat itu valid atau tidak?”

Saya akan sedikit menceritakan kepada Anda tentang pengalaman saya ketika mengikuti akun twitter seorang tenaga medis yang mengatakan, “Kalau ada fakta ilmiah di internet, liat sumbernya dulu, cross check. Kalau valid, sebarkan. Intinya, hati-hati.. Ternyata pernyataan tersebut muncul ketika ia melihat bahwa timeline twitter sedang memperdebatkan tentang bagaimana penggunaan masker yang benar menurut teori ilmiahnya. Banyak akun-akun twitter yang memberikan jawabannya tanpa dasar yang kuat. Sampai akhirnya ia langsung memposting sebuah sumber valid dari Public Health Departement tentang bagaimana penggunaan masker yang benar.

Contoh kasus diatas hanyalah satu dari banyak kasus yang terjadi sekarang ini. Banyak informasi yang disebar dan hanya sekedar menyebar tanpa ada dasar kuat kalau informasi tersebut valid atau tidak. Coba bayangkan ketika informasi yang disebar tidak valid dan menyangkut nyawa manusia ataupun profesionalitas institusi dan profesi. Hal ini pasti akan menimbulkan dampak yang akan mempengaruhi sistem kehidupan manusia itu sendiri. Karena ketika seseorang senantiasa didorong mendengarkan informasi , maka dia akan mengalami kebebalan dan tidak ada informasi yang akan ia serap.

Jadi, sebaiknya jangan pernah menerima mentah informasi yang ada di internet, cross check dahulu kebenarannya lalu sebarkan. Agar kita semua bisa lebih ‘melek media’ , tidak tersesatkan oleh internet dan dapat mengambil manfaat dari internet tersebut.


Daftar Pustaka:
Lieverouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Hand Book of New Media: Social Shaping Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar