New Media Membentuk Virtual Community dalam Platform Kampus Update

  • 0
Pertemuan kedua dalam mata kuliah Teknologi Komunikasi kemarin mengantarkan saya pada postingan blog kali ini, setelah sebelumnya saya dan kelompok me-review chapter 2  karangan Nicholas W. Jankowski yang berjudul Creating Community with Media: History , Theories and Scientific Investigations dalam Handbook of New Media. Dalam pertemuan tersebut  akhirnya saya mendapatkan sebuah kesimpulan, bahwa ‘new media’ ternyata mampu mengubah beberapa aspek dalam kehidupan manusia seperti struktur sosial, ekonomi, budaya serta pendidikan. ‘New media’ juga berperan dalam terbentuknya ‘virtual community’ yang menimbulkan beberapa efek dalam kehidupan manusia. Kajian ini memanglah merupakan kajian yang selalu menjadi topik menarik untuk dikaji khususnya dalam ilmu komunikasi.
            Kita semua tahu bahwa di zaman sekarang orang sudah tidak perlu repot untuk berkomunikasi. Cukup dengan duduk di depan komputer, seseorang sudah dapat berkomunikasi dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Apalagi sekarang sudah zamannya era ‘new media’ dalam hal ini kita sebut internet, yang mana dapat mengakses apa saja yang kita inginkan. Internet merupakan jaringan global komputer dunia, besar dan sangat luas sekali dimana setiap komputer saling terhubung satu sama lainnya dari negara ke negara lainnya di seluruh dunia dan berisi berbagai macam informasi, mulai dari text, gambar, audio, video, dan lainnya.

Karakteristik ‘New Media’
‘New media’ datang diiringi oleh karateristik yang dimilikinya. Beberapa tokoh telah mencoba menjelaskan beberapa karakteristik yang dibawa oleh ‘new media’, seperti McQuail (1994) yang mengatakan karakteristik media baru secara umum melibatkan desentralisasi pada channel untuk penyebaran pesan peningkatan ketersediaan kapasitas untuk pemindahan pesan melalui satelit, kabel dan jaringan komputer; peningkatan dalam opsi yang ada untuk anggota audiens, untuk menjadi terlihat dalam proses komunikasi, sering memerlukan sebuah bentuk interaktif komunikasi; dan peningkatan dari fleksibelitas untuk penentuan pesan. Kemudian tokoh lain yaitu Negroponte (1995) yang menjelaskan karakteristik ‘new media’ yaitu mempertimbangkan aspek terakhir yang merupakan tampilan paling fundemental atau mendasar dan digitalisasi hal yang penting untuknya sehingga kandungan pada suatu media dapat saling bertukar dengan yang lainnya.
Dari pendapat kedua tokoh diatas, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa karakteristik ‘new media’ adalah digitalisasi atau penggunaan komputer atau satelit untuk pertukaran pesan dan terjadi komunikasi interaktif.

Internet Membentuk Pola Interaksi
Kita semua sependapat bahwa internet termasuk dalam ‘new media’. Internet itu sendiri berasal dari kata Interconnection Networking, yang berarti hubungan dari banyak jaringan komputer dengan berbagai tipe dan jenis, dengan menggunakan tipe komunikasi seperti telepon, satelit, dan lainnya. Internet memberikan banyak sekali manfaat, ada yang bisa memberikan manfaat baik dan buruk.
Para peneliti berpendapat, ada kegiatan komunikasi melalui Internet yang masih bisa dikatakan berada pada tataran sosial dari para pelakunya. Ini menunjuk pada konteks bila kita melakukannya pada orang yang telah kita kenal, orang yang sehari-hari menjadi kolega, teman yang sering bertemu, atau pernah kenal. Saya mengatakan ini karena dalam konteks itu komunikasi melalui Internet adalah ekstensi dan/atau komplemen dari komunikasi yang dilakukan secara konvensional (face to face). Akan tetapi kita semua telah mengetahui bahwa melalui internet seseorang bisa melakukannya dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal.Ya, dewasa ini definisi dari kata “kenal”semakin meluas. Pada mailing list atau chat room, misalnya, kita bisa melakukan komunikasi dengan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal, belum pernah kita jumpai, bahkan kita pun tidak tahu mereka ada di mana, pekerjaannya apa, kalau perlu bahkan kita pun bisa tidak tahu mereka itu laki-laki atau perempuan karena mereka menggunakan ID yang uniseks atau avatar yang tidak merujuk ke gender tertentu.

Peran ‘New Media’ dalam Virtual Community
Perkembangan media yang sangat pesat hingga sampai pada era ‘new media’ saat ini telah membentuk komunitas-komunitas online di masyrakat. Komunitas-komunitas tersebut dikenal dengan sebutan "Virtual Community". Virtual Community untuk pertama kalinya dicetuskan oleh Rheingold dalam bukunya The Virtual Community: Homesteading at Electronic Frontier (2000). Lalu, apakah ‘virtual community’ tersebut? Virtual community merupakan sekumpulan orang yang terhubung karena adanya kesamaan dalam interakasi antara individu dan terhubung melalui dunia maya.
Apa yang membedakan komunitas dunia nyata dan dunia virtual (virtual community) ?
Bila pada komunitas dunia nyata paling tidak orang-orang yang mengawali adanya komunitas itu harus bertemu, sedangkan di komunitas virtual orang-orang tersebut tidak perlu bertatap muka. Bahkan tidak perlu saling kenal dekat terlebih dahulu. Yang dibutuhkan hanya kesamaan minat dan alamat email (sebagai media berkomunikasi).
Keadaan nya pun kadang terbalik, kalau komunitas nyata mengawali berdirinya dengan pertemuan, komunitas virtual lebih sering pertemuan atau kopi darat itu justru terjadi setelah komunitas virtual tersebut berdiri dan menjadi akrab satu sama lain. Kebutuhan bertemu itu justru muncul karena dirasa setelah sekian lama komunitas virtual itu berjalan tapi sesama mereka tidak tahu ‘bentuk’ masing-masing anggota. Karena itu lah kemudian diadakan gathering-gathering.

New Media dan Virtual Community dalam Kampus Update
            Setelah dijabarkan diatas mengenai ‘new media dan ‘virtual community, pada bagian ini saya akan memberikan contoh dari bentuk nyata ‘virtual community’. Sebagai individu yang hidup di era ‘new media’ , saya juga ikut andil dalam pemanfaatan teknologi yang semakin canggih sekarang ini. Saya adalah salah satu anggota team Kampus Update. Kampus Update adalah sebuah platform yang terbentuk atas dasar ingin memberikan informasi-informasi mengenai dunia kampus, seperti beasiswa, magang, lowongan pekerjaan serta event di dunia pendidikan. Tujuan tersebut dimaksudkan agar akses informasi berkumpul dalam satu sumber yaitu Kampus Update dan memudahkan setiap mahasiswa atau job seeker dalam memperoleh informasi. Lalu, mengapa Kampus Update merupakan ‘virtual community’ ?
            Kampus Update sendiri terbentuk pada tahun 2012 dan memiliki akun twitter, website ,fanpage facebook dan tentunya e-mail yang menjadi media untuk berinteraksi dengan Updaters (sebutan untuk para pengikut Kampus Update). Kampus Update juga memiliki 2 program dalam keberlangsungannya sebagai sebuah komunitas virtual. Program pertama adalah #KUChat , program yang menghadirkan narasumber berkompeten guna membagi tips dan trik kepada Updaters melalui twitter. Dalam program ini terlihat jelas bahwa ‘new media’ dalam hal ini internet, mampu membentuk pola interaksi.
            Program kedua adalah #KUTalk, program ini merupakan bentuk nyata dari ‘virtual community’ Kampus Update. Ya, #KUTalk merupakan jawaban atas kebutuhan bertemu sesama Updaters yang selama ini hanya melalui dunia maya. #KUTalk sendiri bentuknya seperti workshop dan diadakan sekali setiap bulannya.
            Saya sendiri bergabung dalam Team Kampus Update, awalnya hanya dari twitter, ikut program #KUTalk dan dihubungi via whatsapp. Semuanya benar-benar hanya karena memiliki kesamaan minat dalam dunia pendidikan dan tanpa adanya faktor “kenal” terlebih dahulu. Bahkan Team Kampus Update sendiri yang berjumlah 18 orang ini juga saling bertemu face-to-face baru akhir bulan tahun lalu (Desember, 2014). Dan juga Kampus Update tak memiliki kantor nyata dalam bentuk bangunan, platform ini benar-benar memanfaatkan “ruang” dalam dunia maya. Inilah yang membuktikan bahwa Kampus Update merupakan ‘virtual community’.

Daftar Pustaka:

Lieverouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Hand Book of New Media: Social Shaping Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London

Tidak ada komentar:

Posting Komentar